Menkominfo Bantah Bahwa Gangguan Internet di Papua Black Out

Menkominfo Bantah Bahwa Gangguan Internet di Papua Black Out

Menkominfo Bantah Bahwa Gangguan Internet di Papua Black Out – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyebut putusnya kabel laut optic fiber milik Telkom Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS) ruas Biak-Sarmi, Jayapura berdampak di empat wilayah. Johnny menyebut putusnya kabel laut tersebut berdampak pada total grafik dari normal sistem komunikasi di Papua, yakni sekitar 154 Gbps dari total trafik di Papua sebesar 464 Gbps.

Berdasarkan penulusuran sementara, putusnya kabel laut tersebut diakibatkan karena faktor alam. Johnny menambahkan, peristiwa putusnya kabel laut di lokasi tersebut bukan kali pertama. Pihaknya mencatat kabel laut di lokasi tersebut pernah putus sebanyak lima kali. Ada pula narasi yang menyebut jaringan internet di Papua sengaja dimatikan, agar informasi soal konflik di sana sulit disampaikan ke dunia luar.

Tetapi, menteri dari Partai Nasional Demokrat itu menyebut putusnya jaringan kabel fiber optik di Papua lantaran Agen Poker77 faktor alam. Apalagi di bawah laut juga ditemukan aktivitas vulkanik. Hal itu, kata dia, mengakibatkan suhu tinggi yang bisa memutus kabel. Lalu, kapan jaringan internet di empat area itu bisa pulih sepenuhnya? Apalagi Papua akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 2-15 Oktober 2021.

1. PT Telkom janjikan jaringan internet di Papua kembali pulih pada Juni 2021
Blokir Internet di Papua, Ombudsman: Pemerintah Kini Mirip Orba

Johnny mengatakan untuk memulihkan kondisi jaringan internet di Papua, PT Telkom sudah turun tangan. Mereka menggunakan kapal khusus untuk mengangkat kabel fiber optik yang terputus dan menyambungkannya kembali.

Namun, Johnny mengakui, pemulihan jaringan itu tidak dilakukan dengan mudah. “Mengingat kedalamannya, ini (kabel) terputus di kedalaman 4.050 meter. Tekanannya di dasar laut mencapai 400 bar,” kata dia.

Johnny juga berdalih proses pemulihan jaringan internet di Papua membutuhkan waktu lama, karena hanya ada empat kapal yang mampu melakukan penggelaran kabel bawah laut. “Dua di antaranya sudah tidak berfungsi, satu sedang melakukan overhaul dan maintenance sehingga hanya tersisa satu kapal,” ujarnya.

Sehingga, kini Telkom hanya menggunakan sisa satu kapal itu untuk menggelar, mengangkat dan menyambung kabel yang terputus. “Proses itu dilakukan dari wilayah timur ke barat,” tutur Johnny.

Semula, Kemkominfo memperkirakan kabel tersebut bisa kembali tersambung pada awal Mei lalu. “Semalam, saya mendapat kabar dari PT Telkom yang mengatakan seharusnya pada Minggu malam sudah bisa diselesaikan, namun lagi-lagi terjadi cuaca yang buruk di laut di sekitar wilayah terputusnya kabel,” katanya.

Johnny pun berharap kabel yang terputus itu sudah tersambung pada pekan depan. Sementara, pemulihan jaringan sudah bisa normal pada bulan ini.

2. PT Telkom juga siapkan rute kabel fiber optik baru di bagian utara
Menkominfo: Gangguan Internet di Papua Tak Sampai Black Out!

Dalam keterangan pers tersebut, Johnny menyebut, putusnya kabel fiber optik di Papua bukan kali ini saja terjadi. Peristiwa serupa sudah terjadi beberapa kali.

Untuk itu, kata Johnny, PT Telkom sedang membangun rute kabel fiber optik alternatif di bagian utara, yang memanjang dari Biak hingga ke sekitar Kabupaten Sorong. “Panjang kabel bawah lautnya sepanjang 1.147 kilometer,” ujarnya.

Pembangunan kabel bawa laut itu sudah dimulai sejak 2020 dan diharapkan rampung pada kuartal I 2022. “Sehingga, nantinya di Papua ada tiga rute (jalur kabel fiber optik bawah laut) yaitu rute selatan, tengah dan utara,” tutur dia.

3. Kemkominfo berharap pemulihan jaringan internet di Papua, sehingga PON tak terganggu
Menkominfo: Gangguan Internet di Papua Tak Sampai Black Out!

Johnny berharap, jaringan internet di Papua bisa secepatnya pulih. Hal itu sangat dibutuhkan lantaran Papua pada tahun ini menjadi tuan rumah Pekan Olaraga Nasional (PON) 2021.

“Kami harapkan agar penggelaran fiber optik ini bisa selesai, sehingga dukungan untuk transmisi data ke dan dari Papua bisa berlangsung dengan baik. Di saat yang bersamaan, pembangunan the last mile, BTS (Base Transceiver Station) oleh Kominfo di Papua akan dilakukan di 2021 dan 2022 nanti untuk keseluruhan wilayah Papua,” ungkap Johnny.

Ia pun juga berharap 5.000 BTS dapat digelar di Papua dan siap untuk melayani masyarakat di akhir 2022 nanti.

Sebelumnya, Persatuan Advokat Indonesia (Peradi) mengirim somasi akibat putusnya kabel laut ruas Biak-Sarmi, Jayapura. Sebab, putusnya kabel tersebut telah membuat aktivitas masyarakat yang membutuhkan internet terganggu.