Inilah Eksperimen Sains Amerika yang Kejam Kepada Narapidana

Inilah Eksperimen Sains Amerika yang Kejam Kepada Narapidana

Inilah Eksperimen Sains Amerika yang Kejam Kepada Narapidana -Ilmu,  sains, atau ilmu pengetahuan adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berpikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Semua kemajuan sains yang kita miliki sekarang tidak didapatkan begitu saja, banyak hal yang dikorbankan oleh peneliti maupun objek eksperimen.

Sejarah mencatat bahwa narapidana merupakan salah satu kelompok yang sering berpartisipasi dalam Livechat Live22 Indonesia eksperimen sains, medis, maupun sosial. Terkadang, mereka tidak secara sukarela menjadi objek percobaan. Tidak sedikit narapidana yang dijebak dan dipaksa untuk berpartisipasi. Parahnya, eksperimen yang mereka ikuti terkadang kejam dan membahayakan keselamatan diri.

1. Menyebarkan wabah kepada narapidana
5 Eksperimen Sains Kejam Amerika Terhadap Narapidana, Tidak Manusiawi!

Pada masa perang dunia kedua, banyak tentara Amerika terkena penyakit yang biasa ditemui di daerah tropis. Malaria, diare, beri beri, demam berdarah, dan berbagai penyakit tropis menjadi masalah besar yang harus ditangani. Banyak dokter dan peneliti yang memutar otak untuk menemukan obat dari berbagai penyakit ini.

Ketika itu, Amerika sedang menjajah Filipina, dan hal ini dianggap sebagai sebuah kesempatan untuk mengadakan eksperimen medis. Salah satu dokter kemudian menyebarkan penyakit kolera kepada narapidana di penjara Filipina. Tidak lama setelah itu, narapidana di penjara tersebut terinfeksi kolera dan mengalami diare maupun dehidrasi hebat. Eksperimen ini mengakibatkan hilangnya 13 nyawa narapidana.

Dalam buku berjudul “Why Doctors Kill: Why, Who, and How”, disebutkan bahwa tujuan eksperimen ini bukanlah untuk menyebarkan penyakit, melainkan untuk lebih memahami penyakit tersebut. Pada akhirnya, eksperimen ini terungkap dan diinvestigasi oleh pihak berwenang. Eksperimen ini menuai banyak kritik dan dianggap tidak bermoral oleh berbagai pihak.

2. Percobaan radiasi nuklir
5 Eksperimen Sains Kejam Amerika Terhadap Narapidana, Tidak Manusiawi!

Pada tahun 1994, Bill Clinton, presiden Amerika pada saat itu, mengeluarkan press release mengenai eksperimen radiasi nuklir yang telah dilakukan selama beberapa tahun ke belakang. Eksperimen ini bertujuan untuk melihat sejauh mana efek radiasi nuklir terhadap tubuh manusia.

Eksperimen ini dilakukan oleh United States Atomic Energy Commission terhadap beberapa kelompok orang, termasuk narapidana. Objek percobaan dipaparkan radiasi nuklir melebihi batas seharusnya, bahkan mencapai level yang ekstrem. Radiasi nuklir dapat melemahkan dan memecah DNA, dan dapat mengakibatkan kanker dalam jangka panjang.

Karena percobaan ini merusak DNA para narapidana, maka risiko para narapidana memiliki anak dengan disabilitas juga meningkat. Untuk mengatasi hal ini, peneliti memutuskan untuk mensterilisasi narapidana, atau dengan kata lain membuat narapidana mandul. Sungguh kejam ya!

3. Menyuntikkan darah sapi kepada narapidana
5 Eksperimen Sains Kejam Amerika Terhadap Narapidana, Tidak Manusiawi!

Eksperimen ini mungkin terdengar aneh, namun kejadian ini memang nyatanya terjadi. Pada tahun 1942, seorang peneliti diminta untuk menyuntikkan darah sapi ke tubuh narapidana oleh Angkatan Laut Amerika. Beberapa sumber mengatakan percobaan ini bertujuan untuk mengembangkan senjata biologis, sumber lain mengatakan percobaan ini bertujuan untuk menemukan jenis obat baru. Eskperimen ini mengakibatkan 64 kematian narapidana.

4. Menginfeksi narapidana dengan penyakit pellagra
5 Eksperimen Sains Kejam Amerika Terhadap Narapidana, Tidak Manusiawi!

Percobaan ini dilakukan pada tahun 1915 di penjara Missisipi. Seorang dokter bernama Joseph Goldberger ingin melihat hubungan kemiskinan dengan penyakit pellagra. Hipotesisnya mengatakan bahwa orang miskin memiliki penyakit pellagra karena kekurangan vitamin B3 yang biasa terkandung dalam daging. Dengan sedikit uang, orang miskin cenderung tidak dapat membeli dan mengonsumsi daging.

Untuk membuktikan hipotesisnya, Goldberger melakukan eksperimen terhadap narapadina di Rankin State Prison Farm. Tidak sendiri, Goldberger bekerjasama dengan gubernur setempat untuk mengadakan eksperimen ini. Sebelas narapidana dipilih dan dijanjikan kebebasan jika bersedia menjadi objek penelitian.

Penelitian dilakukan dengan memberikan diet ketat terhadap narapidana. Diet ini mengandung sedikit daging, susu, dan sayuran. Setelah 6 bulan menjalani diet, 5 narapidana terkena pellagra dan sisanya mengalami gejala pellagra. Walaupun hipotesisnya terbukti benar, eksperimen yang dilakukan Goldberger menuai kritik dan dianggap tidak bermoral.

5. Memaksa narapidana untuk memakan feses
5 Eksperimen Sains Kejam Amerika Terhadap Narapidana, Tidak Manusiawi!

Pada tahun 1940, banyak eksperimen yang dilakukan untuk menemukan penyebab dan pengobatan penyakit. Salah satu hal yang menjadi pertanyaan para peneliti adalah bagaimana bakteri dapat menyebabkan penyakit ke tubuh manusia. Ada 2 hipotesis yang diyakini oleh peneliti, yakni bakteri menyebar secara efektif melalui udara atau melalui makanan yang tertelan oleh manusia.

Untuk membuktikan hipotesis mana yang lebih tepat, peneliti mengadakan sebuah eksperimen kejam. Eksperimen ini melibatkan narapidana di New York State Vocational Institution, yaitu penjara di New York.

Narapidana dipaksa untuk memakan feses yang terinfeksi penyakit, dan peneliti akan melihat bagaimana dampaknya terhadap tubuh narapidana. Sampai saat ini, tidak diketahui apakah para narapidana diberikan kompensasi akan keterlibatannya terhadap eksperimen ini, sungguh menjijikkan!

Ilmu alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.