Berikut Tanda-tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual

Berikut Tanda-tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual

Berikut Tanda-tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual – Psikologi adalah salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari tentang perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia melalui prosedur ilmiah. Semua orang punya potensi untuk menjadi pelaku pelecehan seksual, tidak memandang gender, usia dan latar belakang mereka. 

Pelecehan seksual adalah perilaku, ucapan, isyarat atau pendekatan terkait seks yang tidak diinginkan oleh salah satu pihak. Dan tentunya, semua orang bisa menjadi korban, karena mereka bisa sewaktu-waktu melecehkan kita.

Rupanya, orang yang kerap melakukan pelecehan seksual punya ciri-ciri psikologis yang bisa dikenali. Dilansir sumber Daftar Poker777, simak lebih dalam di sini!

1. Biasanya, mereka memiliki kepribadian narsistik

Waspadai 5 Tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual

Teori pertama, pelaku pelecehan seksual biasanya memiliki kepribadian narsistik. Laman Psychology Today menyebut ini sebagai “the dark triad” alias triad kegelapan. Di dalamnya, bersemayam tiga sifat sekaligus, yaitu narsisme, psikopati dan machiavellianisme.

Pelaku pelecehan seksual yang berkepribadian narsistik akan membenarkan tindakan pelecehan yang mereka lakukan dan menganggap korban “pantas untuk mendapatkannya”. Sebagai contoh, pelaku melakukan catcalling dan ketika korban risi, pelaku akan berujar kalau ini adalah hal yang wajar diterima karena korban memiliki fisik yang rupawan.

2. Selain itu, mereka biasanya eksploitatif dan manipulatif
Waspadai 5 Tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual

Masih dalam teori triad kegelapan, pelaku pelecehan seksual bersifat psikopati. Artinya, mereka kerap mendominasi orang lain, tidak punya empati, sering mengeksploitasi, manipulatif dan cenderung impulsif agresif, ujar laman Psychology Today.

Last one, pelaku pelecehan seksual juga punya sifat machiavellianism. Secara garis besar, ini dapat diartikan sebagai ketiadaan moral dan penuh tipu daya. Pelaku pelecehan seksual biasanya memiliki gabungan ketiga sifat ini (narsistik, psikopati dan machiavellianism).

3. Melakukan pembenaran atas tindakan mereka sendiri
Waspadai 5 Tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual

Teori lainnya menurut laman Psychology Today adalah moral disengagement alias pelepasan moral. Pelaku pelecehan seksual cenderung melakukan pembenaran atas tindakan mereka sendiri di mana prinsip moral umum tidak berlaku bagi kehidupan mereka.

Pelaku akan menganggap kalau pelecehan yang mereka lakukan adalah tindakan yang bisa diterima. Contoh pembenarannya adalah, “Dulu, perempuan gak marah tuh kalau saya goda. Justru itu pujian karena mereka cantik. Kok sekarang pada sensi, ya?” saat pelaku melakukan catcalling.

4. Setidaknya, ada 5 bentuk moral disengagement pada pelaku pelecehan
Waspadai 5 Tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual

Seperti yang dituturkan oleh laman Psychology Today, ada 5 bentuk moral disengagement, yakni:

  • Moral justification: Menganggap pelecehan sebagai tindakan yang bisa diterima
  • Euphemistic labeling: Memakai istilah yang telah didistorsi untuk menyebut perilaku mereka.
  • Displacement of responsibility: Atau pengalihan tanggung jawab, yaitu menghubungkan pelecehan dengan kekuatan di luar kendali mereka. Misalnya, pelaku melecehkan dan berdalih, “Nafsu saya tidak bisa ditahan, sudah dari sananya.”
  • Advantageous comparison: Disebut sebagai perbandingan yang menguntungkan. Pelaku menganggap bahwa perilaku mereka bisa lebih buruk, tetapi mereka tidak melakukannya untuk membuat korban “merasa beruntung”. Contoh, pelaku bisa berujar, “Masih mending cuma disiul-siul, belum dipegang kan?”
  • Dehumanization and attribution of blame: Ini adalah tendensi untuk menyalahkan korban karena korban dianggap melakukan tindakan yang memprovokasi untuk melecehkan. Misalnya, tendensi menyalahkan pakaian korban yang terbuka sebagai “undangan” untuk pelaku.
5. Cenderung misoginis dan menganggap perempuan sebagai objek
Waspadai 5 Tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual

Kali ini, kita berbicara pada lingkup yang lebih spesifik, yakni pelecehan yang dilakukan oleh pelaku laki-laki ke korban yang berjenis kelamin perempuan. Pelaku pelecehan biasanya cenderung misoginis, menganggap relasi antara kedua gender tidak setara dan menganggap perempuan sebagai objek semata.

Contohnya, pelaku berujar, “Salah mereka sendiri, kenapa keluar malam?” atau “Kenapa gak melawan saja? Berarti sama-sama mau dong” pada korban pelecehan seksual dan korban pemerkosaan. Apabila seseorang punya tendensi untuk mengucapkan kalimat ini, ia punya kesempatan untuk menjadi pelaku pelecehan di kemudian hari.

Nah, itulah 5 tanda-tanda psikologis orang yang kerap melakukan pelecehan seksual. Semoga pengetahuan ini berguna untuk kita semua, ya!